Bangunan Bersejarah Kota Medan


Mungkin bagi yang pernah pergi ke kota Medan dalam bayangan adalah kota yang keras, sebagaimana tercermin dari gaya bicara dan cara menyetir sopir angkot di Jakarta. Anda salah menilai bahwa Medan hanya sebatas kota besar dengan (semua) pengemudi ugal-ugalan. Medan ialah kota yang masyarakatnya beragam, didominasi masyarakat bersuku Batak, Melayu, dan Tionghoa. Akulturasi budaya di Medan terasa begitu kental dilihat dari gaya bangunan-bangunannya. Contohnya adalah Istana Maimoon dan Graha Maria Annai Velangkani.

Istana Maimoon

Istana Maimoon sudah berumur lebih dari 100 tahun ini dibangun tahun 1888 oleh Sultan Deli ke-IX, Sultan Ma’moen Al Rasyid. Istana ini merupakan salah satu cagar budaya Indonesia. Istana Maimoon memiliki arsitektur yang sangat cantik, perpaduan dari Islam Melayu, India, Italia, dan Spanyol.

Tiket masuknya sangat murah, hanya Rp5.000, di mana keuntungan atas penjualan tiket digunakan untuk merawat cagar budaya tersebut. Di dalam istana disediakan jasa foto sekaligus penyewaan kostum yang biasa dipakai oleh keluarga kerajaan. Hanya dengan membayar Rp10.000 saja kita dapat memiliki potret diri menggunakan pakaian adat yang dahulu digunakan oleh keluarga Kerajaan Deli.

Graha Maria Annai Velangkanni



Dari namanya saja, tempat ini sudah terdengar cantik Graha Maria Annai Velangkanni adalah gereja dengan sentuhan arsitektur India yang sangat kental. Pertama melihat pasti menyangka sedang mengunjungi Vihara. Setelah dilihat lagi juga tampak seperti kuil. Namun ternyata bangunan yang saya kunjungi adalah gereja dengan arsitektur yang luar biasa cantik.

Gereja ini letaknya cukup jauh dari pusat kota. Jauh disini maksud saya adalah jarak yang ditempuh dengan berkendara selama 40 menit tanpa macet. Bayangkan saja kalau berkendara tanpa macet dan kepadatan di Jakarta ini kita mungkin sudah mengelilingi setengah kota. Meskipun relatif jauh, tempat ini sangat worthed untuk dikejar, apalagi untuk teman-teman yang ingin merasakan ketenangan beribadah di gereja dengan pemandangan yang indah.

Di sepanjang dinding tangga yang melingkar menuju puncak graha tergambar proses kehidupan manusia dari hari pertama hingga hari ketujuh dimana hari pertama sampai hari keenam adalah proses penciptaan dan hari ketujuh adalah waktu untuk recharge, beristirahat dari pekerjaan dan kesibukan selama enam hari dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Nampaknya inilah filosofi mendasar umat Katolik/Kristen.

Related Post

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *