Bersnorkling di Danau Pulau Kakaban


Danau Kakaban merupakan laguna dari sebuah atol yang terbentuk lebih dari 2 juta tahun yang lalu. Bagian dalam atol merupakan laguna yang tertutup dan terpisah dari laut di sekitar pulau Kakaban. Namun, lewat pori-pori karang itu air laut dapat masuk ke laguna, bercampur dengan air hujan yang tertampung di dalamnya. Hal itulah yang menyebabkan air di cekungan itu payau. Sebagai pulau atol yang memiliki laguna berair payau di dalamnya, Kakaban tergolong langka. Diketahui hanya ada dua laguna di dunia yang memiliki kondisi serupa, yang lainnya berada di Pulau Palau di Mikronesia, Filipina.

Aneka biota laut yang menghuni Danau Kakaban juga mengalami evolusi selama terkurung di dalamnya sehingga memiliki sifat dan tampilan fisik yang berbeda dengan spesies sejenisnya yang berada di laut. Makanya, ubur-ubur yang ada di Danau Kakaban telah kehilangan kemampuan untuk menyengat. Di antara ubur-ubur itu ada yang berbadan bening layaknya piring kaca (Aurelia Aurita) dan beberapa jenis lain yang jauh lebih mungil seukuran ujung jari telunjuk (Tripedalia Cystophora). Sedangkan yang berukuran sekepalan tangan, berwarna coklat dengan tubuh seperti bohlam lampu (Martigias Papua), jumlahnya lebih dominan. Di dasar danau tampak ubur-ubur jenis Cassiopeia Ornata menempel pada rumput laut. Uniknya, ubur-ubur jenis ini berenang secara terbalik. Selain ubur-ubur, juga ada beberapa jenis ikan-ikan kecil seperti teri karang dan ikan julung-julung.

Bermain-main dengan ubur-ubur di Kakaban

Boat yang kami tumpangi melaju kencang menuju Pulau Kakaban yang masih berada di gugusan Kepulauan Derawan setelah puas menyelaman Di Perairan Pulau Sangalaki. Sekitar 20 menit perjalanan, kami tiba di Pulau Kakaban yang bagian luarnya berupa tebing karang yang tinggi. Boat tidak dapat merapat ke pulau lantaran bagian depan pulau bukan terdiri dari hamparan pasir tetapi berupa karang-karang yang tajam.

Untuk menuju P. Kakaban, kami harus berenang. Melihat dasar laut yang begitu jernih, sangat bagus untuk bersnorkling di sekitar pulau yang sebagian besar terdiri dari karang dengan menyimpan sejuta pesona bawah lautnya. Ikan-ikan kecil dengan beraneka warna terlihat asyik hilir mudik di antara batu-batu karang dan sea anemone (sejenis tanaman laut).

Usai bersnorkling, kami bergerak menuju kaki tebing P. Kakaban. Beberapa kali kami harus meringis menahan sakit saat kaki tergores tajamnya batu karang. Kami memang harus ekstra hati-hati melewati batu-batu karang tersebut, selain karena tajam, sayang kan kalau terinjak…



Untuk menuju Danau Kakaban, kami harus menaiki anak tangga setinggi kira-kira 100 m. Kemudian, kami harus berjalan meniti anak tangga yang terbuat dari kayu meranti. Di sepanjang titian anak tangga tampak rimbunan pohon tropis dan di beberapa bagian tanah yang terbuka mencuat batu karang yang tajam dan berpori. Tak heran jika pulau ini dikenal sebagai pulau karang atau pulau atol. Rasa lelah meniti anak tangga yang naik turun musnah seketika saat pandangan kami tertuju pada sebuah laguna yang membentang luas di depan mata. Laguna itulah yang disebut dengan Danau Kakaban.

Setibanya di bibir danau, kami segera menceburkan diri ke dalam danau untuk bersnorkling. Karena kurang hati-hati saat menceburkan diri, air danau langsung keruh sebab pasir yang ada di dasar danau langsung terangkat. Dari balik kaca masker, tampak ubur-ubur dengan berbagai ukuran, menari-nari di danau yang dasarnya ditutupi rumput laut berwarna hijau tua.

Puas bermain-main dengan ubur-ubur, kami pun beranjak meninggalkan Kakaban. Hati terasa senang menikmati dan mengagumi indahnya ciptaan Tuhan. Tapi terbersit rasa khawatir, apa yang terjadi jika kawasan konservasi biota laut Danau Kakaban didatangi oleh rombongan wisata dalam jumlah besar. Terbayang terumbu karang yang terinjak-injak, sampah yang dibuang sembarangan, akan membuat kerusakan yang permanen di kawasan ini.

Seperti yang dikisahkan oleh Customs Diving Club di WBC.

 

Bersnorkling di Danau Pulau Kakaban – Wisatasiana

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *