Melihat Upacara Pemakaman Adat Toraja Rambu Solo’


Beruntung, kami dapat melihat upacara pemakaman adat Toraja (Rambu Solo’). Rambu Solo’ ini paling diminati oleh para turis. Biasanya paling banyak diadakan pada bulan antara Juni – Agustus atau bulan liburan sekolah. Diluar bulan itu sangat susah dijumpai. Untuk mendapatkan informasi kapan dan dimana Rambu Solo’ ini diadakan, lebih baik kita menanyakan ke Tourism Information Centre yang tersebar di Rantepao sekaligus menyewa guide disana

Tarif guide yang dipatok Pemda setempat sebesar Rp. 200.000. Tapi kalau mau murah lebih baik tanya ke pihak hotel. Hotel yang akan menghubungkan dengan guide freelance. Guide ini bisa kita tawar tarifnya. Seperti saya yang hanya kena tarif Rp.80.000. Kalau tidak pakai guide, kita akan susah mencari informasi Rambu Solo’. Maklum jaringan mereka sangat luas.

Image: Kanal Wisata Indonesia

Upacara pemakaman adat Toraja Rambu Solo’ yang kami datangi berada di desa Sa’dan, sekitar 7 km dari Rantepao. Upacara yang diadakan oleh keluarga Mantong ini berlangsung selama 7 hari. Tapi kami hanya mendatangi hari terakhirnya atau pas puncak acara.

Datang sekitar pukul 09.00 WITA, kami disambut langsung oleh salah satu anggota keluarga. Tidak lupa kami memberikan sesuatu sebagai ucapan belasungkawa (sesuai pesan guide, lebih baik kita bawa sesuatu untuk tuan rumah, seperti gula atau 1 slop rokok, agar kita bisa dijamu tuan rumah)

Masuk areal Rante (tempat upacara pemakaman), suasana masih sepi. Namun saya kagum akan bangunan-bangunan non permanen dari bambu yang dibangun khusus untuk upacara ini. Ada 4 bangunan dalam areal tersebut. Lakkian sebagai tempat peti jenazah diletakkan atau tempat peristirahatan sementara dan di depannya dibangun bangunan bambu ukuran kurang lebih 5x10m sebagai tempat penerimaan tamu (Lanta Karampoan). Samping kiri-kanan merupakan tempat para undangan dan keluarga. Para undangan VIP dan keluarga ditempatkan dibawah alang sura (lumbung padi) sedang tamu biasa berada di bilik-bilik bambu. Ditengah-tengah rante, dipasang 4 pohon aren yang menandakan empunya hajat adalah kalangan bangsawan (ningrat)

Di lakkian diletakkan 3 peti mati lengkap dengan fotonya. Bentuk peti pun masing-masing punya arti tersendiri. Peti kayu berarti untuk orang muda atau rakyat biasa, orang kaya menggunakan peti dengan diselubungi kain yang diukir. Sedang perempuan, diatas petinya diberi manik-manik perhiasan dan payung

Jenazah yang akan dirambu solo’ sebanyak 3 orang (bapak, ibu dan anak). Bapak dan ibunya sudah meninggal setahun lalu sedang anaknya baru saja meninggalnya. Dalam adat istiadat Tana Toraja, keluarga yang ditinggal mangkat wajib membuat sebuah pesta sebagai tanda hormat terakhir kepada yang telah meninggal.

Rambu Solo’ pada dasarnya adalah ritual yang digelar keluarga untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal. Ritual ini digelar semewah mungkin agar arwah leluhur dapat diterima di puya (surga). Kerbau dan babi pun dikorbankan sebanyak mungkin agar perjalanan sang arwah ke surga tidak terhambat. Orang Toraja mempercayai bahwa jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya hewan yang terbaik sebagai kendaraan menuju Puyo adalah Tedong Bonga sebab kerbau ini dianggap kuat untuk melintasi gunung dan lembah menuju surga.

“Bila (jenazah) tidak dirambu solo’, maka arwahnya belum diterima di puya. Jadi, sebelum dirambu solo’, mayatnya disimpan di kamar bagian selatan dan menghadap barat atau utara. Barat atau utara melambangkan kematian,” kata Rante Tondok, guide yang mendampingi saya. Mayat, dianggap masih sakit dan diberi makan sesuai kesukaannya sewaktu hidup setiap harinya

Dalam Rambu Solo’ kali ini, kerbau yang dikorbankan sebanyak 50 ekor. Salah satunya adalah kerbau bule khas Toraja (tedong bonga) yang harganya bisa mencapai ratusan juta dan kerbau balean (kerbau yang dikebiri).



“Tidak semua dipotong, tergantung kesepakatan antar keluarga. Sebelum dipotong, dicatat terlebih dulu karena dari 50 ekor tersebut merupakan hutang (sumbangan dari kerabat keluarga). Apabila kerabat tersebut meninggal, maka harus membayar hutang tersebut berupa kerbau,” jelas Rante Tondok

Sekitar pukul 14.00 WITA upacara baru dimulai. Sesepuh keluarga duduk melingkar di sisi lapangan. Ditengah mereka ditaruh 5 piring berisi sesajian dan rokok. Lalu mereka mulai melakukan Tonnoru’, yaitu menangis sedih tapi nadanya dilagukan (berbeda dengan Ma’badong/nyanyian). Ditengah-tengah tonnoru’ mereka, orang-orang menaruh uang di dalam piring tadi. Uang itu sekedar ungkapan simpati untuk sekedar meringankan beban biaya upacara ini. Sesekali suara pekik khas Toraja (meoli) terdengar

Selesai tonnoru’, dengan diiringi bunyi-bunyian gong dan membawa tombak yang ujungnya diberi kain dan sepotong bambu berisi tuak (air pohon aren), mereka berkeliling lapangan mengham- piri penyumbang kerbau. Mereka menyerahkan bambu kepada penyumbang kerbau untuk disiramkan tuak ke kerbaunya.

Tiba-tiba suasana menjadi riuh. Cresss… kerbau-kerbau satu demi satu bertumbangan. Menakjubkan! Hanya dengan satu orang dan sekali tebas, kerbau itu langsung tersungkur. Menurut Rante Tondok, hal ini menggunakan kekuatan magic

Setelah pemotongan, daging-daging kerbau tadi dibagi-bagikan dan sebagian dimasak untuk disajikan ke para pengunjung. Sedang tanduk kerbau dipasang di depan Tongkonan. Hal ini menandakan status sosial ekonomi keluarga tersebut. Makin banyak tanduk kerbau yang terpasang berarti makin banyak keluarga tersebut mengadakan pesta.

Sayang, kami tidak bisa menikmati sajian makan tuan rumah. Kami harus mengejar waktu untuk berangkat ke Londa.

Diceritakan oleh Koresponden WBC, Donny Eriyanto 

 

Upacara Pemakaman Adat Toraja Rambu Solo’ – Wisatasiana

 

 

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *