Nonton Pementasan Sendratari Ramayana


Saya menyaksikan pementasan Sendratari Ramayana di gedung pertunjukan tertutup Trimukti, di kompleks Candi Prambanan Jalan Raya JogjaSolo KM 16 Prambanan, Sleman, Yogyakarta yang dapat menampung 400 penonton.

Epos legendaris Ramayana karya Walmiki, diaudio-visualisasikan dalam rangkaian gerak tari khas Jawa dan diiringi musik gamelan, ialah kisah yang diangkat di pementasan Sendratari Ramayana. Tidak perlu khawatir akan sulit menikmati penggalan babak demi babaknya, meski hanya terdengar tembang lagu-lagu dalam bahasa Jawa dibawakan para sinden untuk menggambarkan jalannya cerita, dan hanya sedikit dialog yang terucap dari penarinya. Para penonton masih akan dapat memahami ceritanya, karena sebelum pementasan kita bisa mengambil selebaran yang berisi jalan cerita yang dituliskan dalam bahasa Indonesia dan Inggris setelah melalui loket penjualan tiket. Selain itu, pembawa acara akan menjelaskan jalan cerita di setiap permulaan babak, juga dengan dua bahasa.

Sendratari Ramayana di gedung Trimurti disajikan dalam format cerita penuh, terbagi menjadi empat babak dan diselingi satu waktu istirahat yang memungkinkan penonton untuk rehat sejenak. Babak pertama berkisah tentang pengasingan Rama Shinta di Hutan Dandaka dengan didampingi oleh sepupu Rama, Laksmana.



Suatu hari datanglah Kijang Kencana, yang merupakan jelmaan dari Marica, suruhan Rahwana, yang berniat menculik Shinta. Tertarik akan keindahan Kijang Kencana, Shinta meminta Rama untuk pergi memburunya. Laksmana, yang sebelumnya diperintahkan Rama untuk menjaga Shinta, akhirnya turut pergi menyusul Rama yang tak kunjung kembali. Tanpa penjagaan, Shinta akhirnya berhasil dibawa Rahwana ke negerinya, Alengka.

Babak kedua dan ketiga berisi beberapa pertarungan yang terjadi dalam kaitannya menyelamatkan Shinta dari cengkeraman Rahwana. Di sinilah saya begitu terkesima dengan keindahan visual yang ditampilkan oleh para penari. Dimulai dari penampilan Hanoman dan tentara kera dengan gerakan tari yang begitu lincah, gesit, dan mimik yang jenaka, juga penampilan sejumlah penari dengan kostum garuda yang menandakan lakon pelepasan panah garuda yang digunakan dalam pertarungan. Terlebih lagi penampilan menyeramkan penari-penari berperawakan besar yang menggambarkan gerombolan Rahmana dan Kumbakarna, musuh-musuh Rama. Saat melihatnya pertama kali, saya sampai bergidik takut, busana dan riasan para pemeran antagonis di sendratari ini benar-benar menggambarkan sosok raksasa yang menakutkan.

Tata cahaya panggung juga saya nilai begitu mumpuni, meski di ruangan tertutup para penonton tetap terhibur dengan permainan lampu hias warna-warni yang berubah sesuai suasana kebatinan cerita, ditambah berbagai properti panggung yang mendukung jalan cerita. Contohnya saat adegan Hanoman dibakar hidup-hidup, gugurnya Kumbakarna, dan Shinta membakar diri dengan api suci saat kesuciannya dipertanyakan oleh Rama yang telah berhasil menyelamatkannya di babak keempat.

Huru-hara semakin terasa dengan munculnya api tiruan, asap, jatuhan confetti, dan properti pendukung bernuansa ukiran Jawa. Secara audio pun tak dapat dipungkiri bahwa seperangkat gamelan dengan dua orang sinden dan penutur lakon membuat pertunjukan ini menjadi lebih bernyawa.

Malam itu, saya termasuk penonton yang puas dengan jalannya pertunjukan, sekaligus bangga bisa menyaksikan maha karya anak bangsa lewat pementasan Sendratari Ramayana.

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *