Menyusuri Pesona Wisata Kota Jayapura Papua


Kota Jayapura adalah ibu kota provinsi Papua, Indonesia. Kota ini merupakan ibu kota provinsi yang terletak paling timur di Indonesia. Kota ini terletak di teluk Jayapura yang menyimpan ragam pesona wisata yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Dari Danau Sentani, Jayapura City, hingga situs Mac Arthur ada di tempat ini. Jika banyak waktu, tak ada salahnya mampir ke negeri tetangga Papua New Guenia.

Delapan jam perjalanan udara Jakarta – Jayapura, termasuk transit 45 menit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar terbayang melelahkan. Apalagi tujuan akhir perjalanan saya kali ini adalah Jayapura, ibu kota propinsi paling timur Indonesia, yang terkenal panasnya. Berulangkali saya perbaiki posisi duduk yang membuat bahu pegal, tapi tetap saja tak mampu menghilangkan rasa bosan.

Tapi kejemuan itu terobati dua puluh menit jelang mendarat di Bandar Udara Sentani. Pemandangan Danau Sentani, danau terbesar di Jayapura yang mengitari pulau-pulau di tengahnya, terasa menyejukkan mata. Danau biru bening dengan pulau-pulau hijau, dan langit biru dengan ornamen awan putihnya, menjadi kombinasi warna alami yang menyambut ramah setiap pendatang di Jayapura.

Pesona Kota Jayapura Papua

Di Bandar Udara Sentani, kantong-kantong plastik tergantung di setiap sudut. Kantong yang disediakan bagi warga setempat yang mengonsumsi makan buah pinang. Biasanya saat makan buah pinang, warga Papua, membuang sari buahnya spontan di tanah hingga membuat noda merah disana-sini. Karena itulah pihak bandara menyediakan kantong plastik agar warga bisa membuang sarinya ke dalam kantong plastik.

Perjalanan menuju ke kota Jayapura memakan waktu sekitar 45 menit selama perjalanan mata tak lepas menatap danau Sentani yang berada di sisi jalan yang saya lewati. Jayapura termasuk kota modern bagi ukuran wilayah Indonesia Timur. Pertokoan di kanan kiri jalan menjadi pusat niaga warga Papua dan para pendatang dari berbagai etnis. Kota seluas 940 km2 ini dihuni 261.776 jiwa (sensus penduduk 2010)

Sembari melepas penat, tujuan pertama adalah melihat Kota Jayapura dari puncak bukit atau Polimak. Di sini menjadi tempat favorit para pelancong yang ingin melihat pesona Kota yang dijuluki sebagai Port Numbay ini, termasuk Samudra Pasifik yang berbatasan langsung dengan perairan di Jayapura.

Sore hari tempat yang dikenal dengan Jayapura City ini, sangat ramai. Disebut Jayapura City karena terdapat tulisan tersebut tepat di puncak bukitnya. Tulisan tersebut akan menyala di malam hari, hingga dari kejauhan mirip bukit Hollywood. Banyak pendatang yang ingin mengabadikan diri berfoto disini. Sayang kondisinya tak terawat. Pak Edi warga pendatang yang sudah 20 tahun tinggal di Papua mengakuinya.



Pria yang mengantarkan saya dan rombongan keliling Jayapura itu berkomentar “Kalau ada kafe atau restoran di sini, pasti akan lebih ramai di malam hari. Seperti di Puncak Pas lah,”ujarnya. Biaya masuk ditarif suku setempat yang menguasai wilayah ini. Biasanya diminta sukarela, sekitar Rp 10.000 per kendaraan.

Petang hari, saya mencoba berkeliling ke Teluk Yos Sudarso, melalui Dermaga Kayu Weref. Dengan menyewa kapal motor Rp 100.000 untuk 8 penumpang. Saya dan rombongan menikmati pesona pemukiman sekitar dermaga, sambil mengelilingi Pulau Kayo dan Pulau Kosong. Pulau Kayo didiami warga Papua asli yang mayoritas beragama Nasrani, dan disini terdapat monumen Salib. Sementara Pulau Kosong didiami warga pendatang, dari Bugis, Buton, dan Makassar.

Tugu Mac Arthur

Jika membawa paspor, perjalanan ke Jayapura terasa lengkap mampir ke perbatasan Papua New Guinea. Sayang, saya tak sempat membawanya, hingga tak bisa melihat dari dekat aktivitas warga di perbatasan kedua negara itu. Namun sebagai pengobat rasa kecewa, saya sempatkan mampir ke Situs Tugu Mac Arthur. Douglas MacArthur adalah seorang jendral Amerika Serikat yang berperan penting dalam Perang Dunia II. Ia ditugaskan untuk memimpin invasi ke Jepang pada November 1945, dan kemudian menerima penyerahan Jepang kepada Sekutu pada 2 September 1945.

Akses menuju Tugu Mac Arthur melewati kawasan Resimen Induk Kodam (Rindam) XVII Cendrawasih. Tempatnya berada di daerah yang disebut Ifar Gunung atau Bukit Makatur di ketinggian 325 meter diatas permukaan laut. Jalan menuju bukit Makatur mulus sepanjang 4 km, namun sempit dan berkelok-kelok. Setiap pengunjung harus meninggalkan kartu identitas di pos jaga Rindam, dan jika saat itu sedang ada latihan menembak, maka masyarakat umum tak diperkenankan melewati daerah tersebut

Berupa Situs Tugu MacArthur, monumen setinggi 3 meter berwarna kuning hitam. Di Kayo dan Pulau Kosong. Pulau Kayo didiami warga Papua asli yang mayoritas beragama Nasrani, dan disini terdapat monumen Salib. Sementara Pulau Kosong didiami warga pendatang, dari Bugis, Buton, dan Makassar. samping tugu terdapat rumah kecil sebagai tempat informasi sejarah kedatangan Jendral Mac Arthur disini. Sebelum membangun markas di Ifar Gunung, Pasukan Sekutu mendarat pertama kali di Jayapura lewat pantai Hamadi pada 22 April 1944.

MacArthur memilih Ifar Gunung sebagai markas, karena lokasinya di atas bukit, dimana tampak jelas Bandar Udara Sentani dan Danau Sentani. Dari posisi ini, konon Mac Arthur bisa melihat pergerakan pesawat tempurnya, persis seperti yang bisa saya lihat saat memandang lepas Danau Sentani. Dari bukit ini terlihat jelas berbagai jenis pesawat yang ada di bandara itu.

Cuaca panas tak terasa, karena melihat perpaduan birunya danau dan langit yang mampu menghapus dahaga. Kini, markas Sang Jenderal dipakai sebagai markas Rindam XVII Cenderawasih dan menjadi salah satu situs yang dilindungi pemerintah setempat. Sayang, waktu yang sempit, membuat saya harus segera beranjak meinggalkan tempat ini, untuk kembali melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Masih banyak pesona Jayapura yang bisa ditelusuri jika suatu saat nanti saya kembali ke tempat ini.

Pesona Wisata Kota Jayapura Papua – Wisatasiana

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *