Backpacker ke Museum The Tuol Sleng Genocide dan Ankor Wat di Kamboja


Ingin cari sesuatu yang beda dan menantang jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya hemat, tapi tetap enjoy dengan liburan. Ternyata pilihan untuk ber-backpacker cukup tepat untuk bisa ke luar negeri dengan biaya murah meriah.

Setelah mengunjungi beberapa lokasi wisata di Vietnam, perjalanan dilanjutkan ke Kamboja dengan menggunakan kapal nelayan selama 6 jam perjalanan menelusuri sungai (maaf, saya lupa nama sungainya). Sampai akhirnya kapal kami merapat di sebuah desa kecil Kamboja, kemudian menggunakan angkutan umum dengan 2 jam perjalanan untuk sampai ke kota Phnom Penh.

Malam pertama di Kamboja, kami menginap di hotel rujukan Shinh Cafe Travel Vietnam yang cukup murah cocok bagi backpacker.

 

Museum The Tuol Sleng Genocide Kamboja

Esok harinya kami jalan melihat kota Pnom Penh dengan tuk-tuk (becak ala Kamboja) dan kami berhasil  bernego untuk $9 untuk 3 tempat wisata. Kami memutuskan untuk melihat Killing Fields, Museum The Tuol Sleng Genocide dan Russian Market.

Museum The Tuol Sleng dan Killing Fields adalah tempat yang membuat kami cukup bergetar. Museum The Tuol Sleng dulunya adalah sekolah (The Chao Ponhea Yat High School) yang kemudian berubah menjadi tempat penyiksaan bagi rakyat Kamboja di regim Khmer Merah. Dari Tahun 1975-
1979 sekitar 20.000 rakyat Kamboja, rakyat yang dikelompokan sebagai kelompok intelektual disiksa di gedung ini.

Korbannya pun mulai dari pria, wanita, anak-anak hingga bayi pun juga disiksa disini. Parahnya mereka pun hanya disiksa, dan tidak dibiarkan mati. Karena ada tempat sendiri khusus untuk penjagalan di tempat terpisah yang juga tempat penyiksaan dan pembunuhan masyarakat jelata di
Choeung EK 17 KM arah Selatan kota Phnom Penh, Kamboja. Choeung EK adalah lapangan besar yang difungsikan sebagai tempat penguburan massal setelah mereka di siksa, dan mereka dibunuh di sini. Tempat ini kemudian disebut sebagai The Killing Field.



Setelah melihat sekeliling area Museum dan The Killing Fields, kami melihat Russian Market, yang ternyata tidak jauh beda dengan pasar ular di Mayestik Jakarta, atau pasar kaget Celancang Cirebon. Tidak begitu tertarik, kamipun kembali ke hotel untuk bersiap-siap melakukan perjalanan berikutnya ke Siem Reap, yang terkenal dengan Angkor Wat.

 

Kuil Angkor Wat Kamboja

Setelah semalam di Phnom Penh, kami berangkat pukul 12.00 Wib selama 6 jam dengan Bus ke Siem
Reap. Tiba pukul 20.00 WIB kami pun mencari Guest House. Dan kami bersyukur mendapatkan hotel semalam $12, sehingga satu orangnya kami hanya membayar $4.

Keesokan hari kami menghabiskan waktu di Angkor Wat. Angkor Wat adalah sebuah kuil atau candi yang terletak di kota Angkor, Kamboja. Kuil ini dibangun oleh Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunan kuil Angkor Wat memakan waktu selama 30 tahun.

Setelah puas melihat Angkor Wat, kami pun melihat tarian tradisional Kamboja yang ternyata tidak jauh berbeda dengan tarian Thailand. Malam harinya, kami mencoba resep masakan kamboja di salah satu Café yang saat itu kita mencoba memasak Vegetable Cambodian Curry, dan melihat sekilas kehidupan malam kota Siem reap. Tidak lupa membeli cindera mata untuk sanak saudara yang kami beli di Noon and Night market, pasar ini hanya buka pada sore hingga tengah malam.

Selama perjalanan ke Kamboja kami berkenalan dengan Kieran Shum seorang graphic designer keturunan Chinese, backpacker dari Liverpool England. Kami banyak mendengar pengalamannya yang telah 6 bulan melanglang buana karena berhasil bertraveling ke-22 negara dan 77 kota. Kami pun mengajaknya untuk joint bersama selama di Kamboja, dan syukurlah dia mengiyakan. Kami bersyukur bisa bertemu dengannya.

 

Backpacker ke Kamboja – Wisatasiana

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *