Ekspedisi Penyelaman Di Kepulauan Derawan


Pagi hari, dari Tarakan tim ekspedisi penyelaman berangkat menuju gugusan Kepulauan Derawan. Perjalanan dari Tarakan ke Kepulauan Derawan cukup jauh dan dapat ditempuh melalui laut dan udara. Cuaca pagi itu sangat cerah ketika kami tiba di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Timur. Dengan menaiki pesawat bermesin baling-baling kami terbang menuju Pulau Berau. Sekitar 22 menit kami melayang diketinggian 8000 kaki dan mendarat di Bandara Kalimaru, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada pukul 08.50 WITA.

Usai mendarat, kami langsung menuju Dermaga Berau Coal yang letaknya tidak jauh dari Kantor Bantu Bea dan Cukai Tanjung Redeb. Sekitar pukul 09.40 WITA kami berangkat meninggalkan Dermaga Berau Coal menuju Pulau Derawan dengan menggunakan speed boat bermesin 200 PK. Dengan kecepatan tinggi, speed boat yang membawa kami melaju di atas sungai Segah. Sungai Segah memiliki lebar kira-kira 200 m.

Di sepanjang sungai, banyak ditumbuhi pohon nipah, bakau dan pohon tropis lainnya. Sesekali boat yang kami tumpangi berjalan zig-zag menghindari sampah-sampah kayu yang ada di sepanjang sungai. Beberapa kali boat juga harus terhempas saat melaju di atas riak gelombang yang ditimbulkan kapal lain.

Perjalanan siang itu terasa begitu lama karena di sepanjang sungai tidak banyak pemandangan yang bisa kami lihat. Sekitar pukul 11.00 WITA, speed boat mulai meninggalkan sungai Segah dan memasuki lautan lepas. Siang itu laut begitu biru dan tenang, tidak bergelombang, hmm… setidaknya kami bisa segera tiba di Pulau Derawan. Empat puluh lima menit kemudian, dari kejauhan kami melihat Pulau Derawan.

Senang rasanya mengetahui kami telah tiba di Pulau Derawan, pulau yang terkenal dengan pasir putih dan keelokkan biota lautnya. Saat menginjakkan kaki di Dermaga P. Derawan, bibir ini tidak putus-putusnya mengagumi keindahan P. Derawan. Apalagi siang itu air laut sedang surut sehingga dasar laut terlihat jelas. Tampak ikan-ikan laut dengan warnanya yang indah wara-wiri disekitar dermaga. Beberapa ekor penyu hijau berukuran cukup besar pun terlihat berenang dengan tenangnya di pinggir dermaga seolah hendak mengucapkan selamat datang ke Pulau Derawan.

Pulau Derawan merupakan salah satu pulau dari 21 pulau yang ada di gugusan Kepulauan Derawan yang dikembangkan menjadi kawasan wisata laut dan konservasi biota laut. Pulau Derawan terkenal sebagai salah satu kawasan pengembangbiakkan penyu hijau untuk melindungi satwa ini dari kepunahan.

Usai istirahat, sekitar pukul 16.30 WITA kami menuju ujung dermaga untuk mempersiapkan diri melakukan penyelaman disekitar dermaga Pulau Derawan, tepatnya di Jetty Spot. Setelah menyiapkan alat-alat scuba diving, kami pun melakukan briefing dan berdoa sejenak yang dipandu oleh dua orang dive guide setempat. Kemudian, para diver satu persatu mulai menceburkan diri ke dalam air laut yang mulai pasang. Hari itu air laut cukup jernih dengan tingkat visibility (jarak pandang di dalam laut) sekitar 15 – 20 m sehingga mampu melihat dengan jelas indahnya terumbu karang di dasar laut.

 

Keindahan Bawah Laut Kepulauan Derawan

Berbagai macam sponges (bunga karang) tampak menghiasi dasar laut. Ada giant barrel sponge (seperti gunung dengan lubang ditengahnya), spiky sponge, tube sponge, giant clam (sejenis molluscs) dan sponge lainnya. Berbagai bentuk coral (karang) pun bisa dijumpai di perairan ini, seperti Table Coral, Wire Coral, Gorgonian Fan, Dome Coral, Wrinkled Soft Coral (bentuknya seperti otak manusia) dan masih banyak lagi.



Tak hanya coral dan sponge, berbagai warna bintang laut serta ikan-ikan yang melayang disekitar kami terlihat sangat indah. Diantaranya jenis Lionfish, Butterflyfish, pufferfish, Parrotfish (kebanyakan yang kami temui berwarna biru) dan Crocodilefish.  Saat sedang asyik menikmati pemandangan laut, sambil berfoto-foto beberapa kali kami terkena arus laut yang cukup kuat. Kalau sudah begitu, kami segera meraih karang yang ada didekat kami untuk berpegangan agar tidak terbawa arus.

Sekitar 35 menit berada di kedalaman 17,4 m. Begitu melihat tanda di regulator bahwa persediaan oksigen sudah menipis, segera memberi tanda pada buddy dan kami pun memutuskan untuk naik kepermukaan. Sebelum naik ke permukaan, kami harus berhenti dulu di kedalaman 4 – 5 m untuk melakukan safety stop selama tiga menit. Safety stop atau berhenti sejenak dilakukan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan pada diver (paru-paru bisa pecah jika penyelam langsung naik ke permukaan dengan cepat tanpa melakukan safety stop).

Penyelaman pertama berhasil kami lalui dengan baik. Usai penyelaman pertama, kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu penyelaman yang kedua, night dive (menyelam di malam hari). Menjelang malam, kami pun bersiap-siap untuk melakukan penyelaman yang kedua.

Penyelaman Malam hari Di Pulau Derawan

Sekitar pukul 20.00 WITA persiapan night dive dimulai. Persiapan yang dilakukan tidak berbeda dengan penyelaman sebelumnya, hanya saja kami perlu menggunakan senter sebagai alat penerang di dalam air. Saat sedang melakukan persiapan dive, tiba-tiba kami dikejutkan dengan munculnya penyu hijau yang cukup besar di pinggir dermaga. Kami pun segera berhamburan ke tepi dermaga untuk sekedar melihat penyu tersebut. Usai briefing dan berdoa, satu persatu diver mulai menceburkan diri ke dalam air laut yang mulai bergelombang. Karena gelombang arus laut terlihat kuat, kali ini kami menyelam persis di dekat dermaga

Takjub… itu yang dirasakan saat berada di dalam air, malam hari. Sinar dari lampu senter cukup terang untuk menyinari kedalaman laut. Beberapa ikan laut tampak cuek berenang hilir mudik, tak peduli ada makhluk darat yang sedang mengamatinya. Saat menggunakan senter di dalam air, sinar senter tidak boleh langsung menyinari mata ikan karena dapat membuat ikan menjadi panik dan pergi.

Setelah beberapa saat berada di bawah laut, tiba-tiba salah seorang diver menggerak-gerakkan senternya ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Itu pertanda, ia menemukan biota laut yang unik. Kami pun segera menghampiri, ternyata di dasar laut tampak seekor stonefish sedang berdiam diri. Stonefish merupakan ikan yang memiliki kulit unik. Warna tubuhnya bercak-bercak tak beraturan, hampir sama dengan karang, di beberapa bagian tampak seperti tembok tua yang terkelupas. Dengan warna kulit seperti itu, Stonefish merupakan spesies laut yang ahli dalam melakukan undercover atau menyamar. Ikan ini juga memiliki racun yang berguna untuk menjerat mangsanya.

Selain Stonefish, kami juga menemukan Cleaner Coral Shrimp (warnanya belang, merah-putih) sedang bertengger di atas coral. Beberapa ikan jenis parrotfish juga terlihat sedang bersembunyi di balik karang dan masih banyak biota laut lainnya. Setelah hampir 36 menit menyelam di kedalaman 20 m, kami naik ke permukaan. Saat sedang berada di posisi safety stop, tiba-tiba seekor penyu hijau yang cukup besar melintas tenang diatas kami, so beautiful… Waktu menunjukkan pukul 21.30 WITA saat kami berada di atas dermaga. Ternyata lumayan lama juga persiapan kami menyelam malam itu. Usai menyelam, kami bergegas menuju resort untuk membersihkan diri, makan malam dan beristirahat.

Seperti yang dikisahkan oleh Customs Diving Club di WBC

 

Ekspedisi Penyelaman Di Kepulauan Derawan – Wisatasiana

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *