Istana dan Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi


Istana Bung Hatta tidak jauh dari lokasi Jam Gadang yang merupakan simbol kota Bukittinggi, hanya tinggal menyeberang jalan saja. Persis di sebelah Istana Bung Hatta, kita dapat mengunjungi Taman Monumen Bung Hatta dan sebuah Tugu Pahlawan Tak Dikenal. Menurut sejarahnya, tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenal secara pasti dalam menentang kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1908. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal AH. Nasution pada tanggal 15 Juni 1963 dan diresmikan pada tahun 1965. Konstruksi bangunan tugu diciptakan oleh seorang seniman bernama Hoerijah Adam (1936- 1971) yang meninggal akibat kecelakaan Pesawat Merpati.

Istana Bung Hatta disebut juga Gedung Negara Tri Arga mengambil simbol pemandangan tiga gunung  yaitu Gunung Singgalang, Gunung Marapi, dan Gunung Sago yang ada di sekeliling kota Bukittinggi. Gedung ini bekas kediaman Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat yang memang peranan sebagai ibu kota Indonesia menjadikan gedung ini sebagai salah satu basis Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Bangunan yang berdiri saat ini adalah hasil renovasi pada tahun 1960-an setelah bangunan asli dibumihanguskan sewaktu Agresi II Militer Belanda.

Sekilas mengenai beliau, Dr (HC). Drs. H. Mohammad Hatta atau Bung Hatta lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bung Hatta wafat di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Saat masih di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi, antara lain sebagai bendahara pada organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang. Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Lampau dan Datang”.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.

Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Pada dinding tugu Tugu Pahlawan Tak Dikenal terdapat bait puisi Muhammad Yamin :



Pahlawan Tak Dikenal

Mati luhur tak berkubur

Memutuskan jiwa meninggalkan nama

Menjadi awan di angkasa

Menjadi buih di lautan

Semerbak harumnya di udara

 

Istana Bung Hatta – Wisatasiana

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *