Tiga Hari Menyusuri Kota Tua Roma


Setelah melewati kurang lebih 9 jam perjalanan dari Lucerne, Swiss, akhirnya sampai juga kami di Termini Train Station, Roma, Italia. Di Roma, kami menginap di sebuah apartemen yang dapat disewa secara harian di daerah Trastevere, di dekat jantung Roma.

Dari depan, apartemen ini terlihat seperti rumah tua dengan anak tangga dari kombinasi semen dan marmer. Namun, saat masuk ke dalam, oh la la, perlengkapan modern mulai tempat tidur, kamar mandi, dapur, TV dan soundsystem lengkap, sampai electric heater.

Kami juga dipinjami handphone dengan assigned speed dial ke operator yang fasih berbahasa Inggris untuk memudahkan kami jika membutuhkan informasi tentang restoran, café, tempat shopping, ataupun warnet. Tinggal di lantai tiga dan tidak ada lift membuat kami cukup berolahraga cardio dengan naik turun tangga setiap harinya, tapi toh kami sangat menikmatinya; kota yang sangat ramah dengan udara bersahabat yang menyambut kami.

Hari Pertama di Roma

Hari pertama kami nikmati dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan khusus pejalan kaki, Ponte Sisto, dan menyusuri daerah Campo de Fiori sambil berhenti sebentar untuk menikmati two scoops of hazelnut and mint gelato (Italian ice cream) yang sangat enak.

Ada pengalaman lucu di sebuah toko baju. Saya ingin mencoba sepasang celana, tapi karena tak bisa berbahasa Italia, saya menggunakan bahasa isyarat saja ke pramuniaganya. Si pemilik toko, seorang pria paruh baya, melihat kebingungan kami dan dan langsung menghampiri. Oops. Ia memegang pipi saya dan langsung menciumnya. Dengan bahasa Inggris yang kental logat Italianya, ia menyapa saya, “Bella, you want to try these?”seraya meminta pramuniaganya mengambil celana yang kira–kira pas untuk saya.

Belakangan saya baru tahu, untuk orang Italia, cium pipi kanan dan kiri bahkan pada orang yang baru dikenal sekali pun adalah hal yang normal.

Dari sana, kami merambah Piazza di Spagna atau Spanish Steps yang dipenuhi butik–butik kelas dunia seperti Armani, Prada, Gucci, Bvlgari, Hermes, Versace, dan Benetton. Betul-betul wisata belanja yang asyik hingga hari menjelang malam.

Hari Kedua di Roma



Hari kedua, kami ikut walking tour selama sekitar tiga jam menyusuri sebagian sejarah kota ini. Tour guide kami, Phillipo, seorang laki-laki Roma tulen dan keren (as most of Italians do), bercerita tentang kedahsyatan kota ini. Ia menjelaskan potongan–potongan sejarah dan filosofi di balik tempat–tempat yang dilewati yang membuat kami merasa seperti berada di sebuah museum terbuka yang tidak pernah habis ceritanya.

Phillipo menjelaskan bahwa Trastevere dulunya adalah daerah yang banyak dihuni orang Yahudi dan Syria. Namun seiring berjalannya waktu, ia berubah menjadi salah satu daerah bohemian yang hip dan artistic yang dipenuhi bar dan restoran lokal yang ditempati banyak seniman dan expats. Begitu pun, karakter originalnya, seperti gang–gang dengan cobbled streets dan medieval houses masih sangat terasa. Selama tour, kami melewati banyak tempat bersejarah seperti Jewish Ghetto, Monumento a Vittorio Emanuele II, Piazza Farnese, Piazza Venezia, Fontana di Trevi, atau Forum Romanum.

Di setiap langkah dan tempat yang kami lewati selalu ada sejarah yang dapat diceritakan, memang benar kalimat yang menyatakan “Rome was not built in a day“ karena hampir di setiap bangunan yang kami lihat, selalu merupakan gabungan beberapa masa yang berbeda. Entah pilarnya, atau tembok, atau jendelanya; tak diubah pemiliknya. Orang Roma sangat mencintai sejarah kota mereka, salah satu caranya adalah dengan melestarikan sisa–sisa reruntuhan suatu bangunan yang mereka gunakan lagi untuk membuat bangunan baru dengan tidak meninggalkan bentuk aslinya. Itu menjelaskan mengapa banyak bangunan terlihat seperti gabungan dari beberapa zaman

Kami berhenti di Fontana di Trevi, air mancur besar dari marmer di mana ada patung Neptune, dewa laut, yang sedang berdiri di atas kereta kencana yang berbentuk seperti kerang dan ditarik dua kuda. Fontana di Trevi memiliki satu sumber air yang sudah berusia ratusan tahun dan tak pernah berhenti mengalir, di mana alirannya mengisi puluhan air mancur lainnya di sekitar Roma.

Ada satu legenda terkenal tentang air mancur ini, yaitu jika kita melempar satu koin ke air mancur ini menggunakan tangan kanan dan melewati bahu kanan dipercaya kita akan kembali lagi ke Roma. Jika kita melempar dua koin, kita akan jatuh cinta dengan seorang wanita Roma yang cantik atau seorang laki–laki Roma yang tampan. Dan jika kita melempar tiga koin, kita akan menikah dengan wanita atau laki–laki tersebut. Waktu saya lihat, banyak sekali koin yang ada di dasar air mancur tersebut. Wah.

Hari Ketiga di Roma

Selama kami mengunjungi Eropa, kota Roma paling spesial, karena sejak lama saya memang menginginkan menjelajahi kota tua yang romantis ini. Tidak terasa tiga hari sudah kami lewati di Roma dan sudah waktunya kami pulang ke tanah air.

Menuruni tangga apartemen kami, driver kami sudah menjemput untuk mengantar kami ke airport. Semoga sebuah koin yang saya lempar ke dasar Fontana di Trevi dapat membawa saya kembali lagi ke Roma. Ciao!

 

Catatan Tiga Hari Menyusuri Roma oleh Ayuphita Tiara, Pecinta perjalanan.

Related Post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *